[img url="/" rel="SEURAMOE JEUMPA" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEguWqHiFYQTp3t31kCg0IyKCB3Sxs-_AcL-DPfjR4xmo0kARX1hK1An2ZJBLYXfawhiOpKhzFmBj4ogfVGZOC2vd1hQB2zOaFW585dZT5aAhNqwZrebEfR9JfzWpPgj4jpHikCxyjGJfPw/s1600/10419684519072686025.gif"/]
Articles by "Apresiasi"
Apresiasi News Opini

Dua seniman Aceh, yang juga pengajar pada Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, Dedy Kalee dan Teuku Afifuddin melangsungkan kunjungan silaturrahmi dengan tokoh Aceh di Jakarta, Mayjen TNI Abdul Hafil Fuddin SH SIP MH, yang merupakan Tenaga Ahli Pengkaji Bidang Geografi Tawaran Geografi Lemhanas) di Jakarta, Selasa (6/6/2017).

Dua Seniman Aceh Gelar Silaturahmi Budaya ke Jakarta
Seniman Aceh Deddy Kalee (kiri) dan Teuku Afifuddin (kanan) saat bersilaturrahmi dengan Mayjen TNI Abdul Hafil Fuddin SH SIP MH, di Jakarta, Selasa (6/6/2017). 

Dalam pertemuan tersebut, Mayjen Abdul Hafil Fuddin mengingatkan kepada generasi muda Aceh agar tidak melupakan nilai-nilai tradisi Aceh yang berbasis Islam. Dalam hal ini, Mayjen Hafil Fuddin mencontohkan kemajuan bangsa-bangsa seperti India, China, Jepang, dan Korea yang sejatinya karena salah satunya ditopang kekuatan tradisi mereka.

"Bangsa -bangsa itu maju, lantaran mereka bangsa yang kuat dengan tradisi dan menjadi pendorong kemajuan bangsanya. Nah, bagaimana agar seni mampu mengubah cara pandang orang Aceh untuk mencapai kemajuannya, ini yang harus terus dikembangkan. Seni budaya Aceh itu basisnya adalah Islam," ujar Mayjen Hafil Fuddin.

Menurutnya, dalam wilayah geografi, bukan hanya dimaknai sebagai wilayah semata, melainkan ada yang disebut dengan kultural geografik, mencakupi wilayah budaya.

"Di sinilah peran penting budaya itu, mendorong dan mengubah cara pandang masyarakat. Dan itu tugas Anda sebagai seniman," ujarnya.

Pertemuan silaturrahim yang merupakan bagian dari rangkaian silaturrahmi budaya kepada berbagai pihak di Jakarta itu juga menyinggung peran ISBI Aceh, apakah mampu memainkan peran mengubah karakter manusia Aceh atau tidak?

"Kembali, itu ISBI Aceh yang bisa menjawabnya," tambah Abdul Hafil yang juga dikenal sebagai tokoh pembina olahraga nasional.

Deddy Kalee dan Teuku Afifuddin mengaku mendapat banyak masukan dari pertemuan informal tersebut. "Kami generasi muda Aceh, harus terus menggali nilai nilai tradisi. Pandangan Pak Hafil makin memperkuat tekad kami menyelami nilai-nilai tradisi Aceh dan mengimplimentasikannya dalam karya-karya kreatif kami," ujar Deddy Kalee, yang dikenal sebagai perupa, pembuat dan peniup alat musik Aceh seureune kalee.

Sementara Teuku Afifuddin, selain dikenal sebagai organisatoris seni yang terampil, juga seorang penyair dan akademisi seni, menamatkan pendidikan megister seni dari ISI Padangpanjang. Keduanya, Deddy dan Afif juga diagendakan bersilatirrahim dengan seniman Aceh lainnya yang berdomisili di Jakarta.



Sumber: AcehTribunnews

Anda tentunya sudah tidak asing lagi dengan lagu Kutidhing dan Rihon Meulambong yang dipopulerkan Liza Aulia. Begitu juga dengan lagu Hasan Husen yang dibawakan Rafli. Namun, hanya sedikit yang tahu siapa sosok dibalik meledaknya lagu-lagu itu di pasaran. Dialah Syekh Ghazali LKB, sang produser perusahaan rekaman Kamoe Sajan Gata atau yang lebih dikenal dengan Kasga Record.

Sosok Dibalik Meledaknya Kutidhing, Syekh Ghazali LKB Mengaku Kembangkan Musik Berawal Dari Ejekan
Sosok Dibalik Meledaknya Kutidhing, Syekh Ghazali LKB Mengaku Kembangkan Musik Berawal Dari Ejekan


Om Syekh, begitu ia biasa disapa, adalah pria kelahiran Samalanga, 17 Agustus 1963 silam. Ia mulai berkecimpung di dunia musik Aceh sejak tahun 1998 saat pertama kali membentuk Kasga Record. Namun, Jauh sebelum itu ada cerita menarik untuk diulik dan menjadi titik balik perjalanannya dalam mengembangkan musik Aceh.

Era tahun 80-an, ia merantau ke Jakarta. Disana, ia mempunyai teman dari berbagai suku seperti Sunda, Jawa dan Batak. Mereka sering berkumpul dan menyanyi dengan membawakan lagu-lagu khas daerah mereka. Sampai tibalah giliran Syekh Ghazali untuk bernyanyi.

Pria yang hobi membaca ini pun kebingungan akan menyanyikan lagu apa. Ia akhirnya menyanyikan lagu Bungong Jeumpa, lagu wajib daerah Aceh yang sudah dikenal di seluruh Indonesia. Namun, tembang yang ia nyanyikan mendapat tanggapan dingin dari rekan-rekannya.

Bahkan ada salah satu teman yang kerap menyindirnya. “masak cuma lagu Bungong Jeumpa saja dari dulu dibawakan Aceh, lagu lain mana?”

Sudah tentu pasti sindiran itu membuat Om Syekh tersinggung. “Suatu saat nanti saya akan membuat lagu Aceh dan memperkenalkan lagu Aceh pada mereka,” batin Syekh.

Berawal dari kejadian itu semangat dan motivasi untuk memajukan Aceh di bidang musik pun mulai dalam dirinya. Setelah ia kembali ke Aceh pada tahun 1993, ia mulai merintis usaha untuk mengumpulkan modal. Kala itu ia pernah menyewakan buku dan novel miliknya dengan sistem antar jemput dan dari pintu ke pintu. Ia juga menyulap ruang tamu rumahnya menjadi ruang baca. Selain itu, ia juga menjadi distributor Teka Teki Silang.

Setelah memiliki sedikit modal, pada Tahun 1998 ia pun mulai belajar menjadi produser pada Ibnu Arhas, yakni salah seorang musisi Aceh yang karya-karyanya cukup digemari oleh masyarakat. Pada 2001, ia dikenalkan dengan Rafli oleh seorang temannya. Tahun 2002 ia mengeluarkan karya perdananya yaitu Cut Intan, Ainal Mardhiah dan Hasan Husen. Tahun 2003 ia memproduksi album Cut Miranda dan Rapai Kolaborasi Etnik Trendi (Raket).

Selain pada Ibnu Arhas, ia juga menimba ilmu pada Cut Rosmawar. Dengan banyaknya lagu-lagu Aceh yang diproduksinya, ia telah membuktikan kepada teman-temannya dulu bahwa lagu Aceh bukan hanya Bungong Jeumpa dan Bungong Seulanga.


Berkat kerja kerasnya dalam memajukan musik Aceh, 2014 lalu ia pun mendapat Anugerah Banda Aceh Madani 2014 oleh Wali Kota Banda Aceh sebagai pelopor musik etnik Aceh.

Lagu Tanoh Lon Sayang adalah lagu Wajib Daerah Aceh selain Bungong Jeumpa dan Aneuk Yatim. Lagu ini memang sangat terkenal dikalangan masyarakat Aceh dan dan telah terpilih menjadi lagu Wajib Daerah Aceh pada tahun 2007.

Sementara itu, ada beberapa sumber yang mengatakan dan meyakini bahwa lagu Tanoh Lon Sayang merupakan ciptaan Anzib Lamnyong seorang diri dengan judul asli Aceh Lon SayangTanoh Lon Sayang yang dipercaya merupakan ciptaan komponis T. Djohan dan Anzib Lamnyong pun menjadi sedikit kontrofersi. 

Anzib Lamnyong, Maestro Aceh Pencipta Lagu Aceh Lon Sayang
Anzib Lamnyong, Maestro Aceh Pencipta Lagu Aceh Lon Sayang
(Foto: Pictaram.com)

Menurut ulasan music.or.id, mereka mengatakan bahwa Lagu Aceh Lon Sayang termaktub di halaman pertama buku Irama Dairah Atjeh dengan judul ‘Atjeh Lon Sajang’. Mereka percaya, T.  Djohan dan Anzib Lamnyong memang telah menghasilkan banyak lagu yang sekarang dianggap sebagai warisan endatu, seperti lagu Mars Iskandar Muda, Cut Nyak Dhien, Bungong Keumang, Teungku Tjhik Di Tiro, Teuku Oemar, dan lain-lain. Tetapi, setelah menemukan bukti tertulis tersebut, mereka percaya bahwa judul asli lagu Tanoh Lon Sayang adalah Aceh Lon Sayang, dan diciptakan oleh sang maestro musik Aceh, almarhum Anzib Lamnyong.

Semasa hidupnya, Anzib Lamnyong telah menciptakan ratusan lagu yang terbagi dalam tiga kategori, yaitu Irama Daerah Atjeh (1916-1967), Buhu Atjeh (1950-an) dan Irama Atjeh Baroe (sejak 1964).  Lagu Aceh Lon Sayang termasuk lagu-lagu yang diciptakannya pada masa IDA, dibuat tahun 1955 dan diberi nomor 50.

Menurut mereka, setelah buku itu diterbitkan (1966), kemungkinan besar pernah ada kolaborasi antara T. Djohan dan Anzib untuk merubah lagu tersebut, sehingga T. Djohan juga dianggap sebagai bagian dari pengarang.

Selain sebagai seorang Maestro musik Aceh, Anzib Lamnyong yang memiliki nama asli Abdul Aziz ini juga dikenal sebagai sastrawan. Pria kelahiran 1892 di Silang Kampung Rukoh (wilayah Darussalam)  Banda Aceh itu juga pernah menjadi guru di beberapa Sekolah Rakyat dan pensiun pada tahun 1957.

Kreatifitasnya bermula sejak tahun 1927 saat ia mulai menulis berbagai cerita pendek untuk dimuat di berbagai surat kabar terbitan Medan. Namun, sejak tahun 1916 ia telah mengumpulkan berbagai karya sastra dan budaya Aceh sebagai wujud kecintaannya di bidang bahasa dan sastra. Anzib juga pernah memberikan kursus bahasa Aceh pada opsir-opsir Belanda.

Karir seninya mulai dibangun sejak ia belajar bermain biola pada tahun 1914-1916. Karena kepiawaiannya itu, ia menjadi violis dalam muziek-vereeniging Aceh Band yang dipimpin oleh ABC Theuvenet antara tahun 1917 sampai 1920. Setelah itu, ia menjadi violis di Deli Bioskop Kutaraja. Ia juga bergabung dengan  Muziek-vereeniging De Endracht. Tak puas hati, pada tahun 1922, ia pun mendirikan grup musik sendiri yang diberi nama laasmuziek di Lamnyong sampai tahun 1926. Sesudah itu hampir, ia vakum dalam dunia musik hampit seperempat abad lamanya. Baru pada tahun 1955 ia kembali bermusik.

Setelah kembali bermusik, ia menjadi violis orkes daerah Indahan Seulawah dan memainkan lagu-lagu daerah yang disiarkan melalui RRI Kutaraja. Lagu-lagu yang sempat populer waktu itu di antarnya Atjeh Lon Sayang, Nanggroe Atjeh, Bungong, Sulthan Iskandar Muda, Gunongan, Prang Atjeh dan sebagainya yang merupakan karangan Anzib dan kawan-kawan.

Tahun 1959, grup ini terpaksa harus bubar karena perbedaan pendapat antara DA Manua dan Anzib. DA Manua menginginkan segi-segi hiburan lebih ditingkatkan dengan tidak semata-mata membawakan lagu-lagu daerah. Perselisihan tersebut terlukis dalam beberapa catatan harian Anzib. “DA. Manua kurang mengetahui bahwa di daerah Aceh juga mempunyai lagu-lagu sendiri yang khas,” tulis Anzib dalam catatan hariannya tahun 1961.

Semasa hidup, Anzib telah menciptakan lebih dari 200 lagu Aceh. Tahun 1974, ia memperoleh Piagam Penghargaan dari Gubernur Aceh atas jasa dan karyanya di bidang bahasa dan pendidikan. Anzib Lamnyong akhirnya menghadap sang pencipta dalam usia 84 tahun di Banda Aceh pada 1976 silam.


Lain halnya dengan Anzib Lamnyong, tidak banyak informasi yang menjelaskan siapa itu T. Djohan. Sebagian orang mengaitkannya dengan almarhum Mayjen Teuku Djohan yang pernah menjadi Wakil Gubernur Aceh. 

Menurut investigasi yang dilakukan Atjehpost.co dengan putra almarhum Mayjen Teuku Djohan tersebut yang bernama Teuku Irwan Johan, mengungkapkan tidak benar bahwa ayahnya merupakan pecipta lagu Tanoh Lon Sayang

"Almarhum ayah saya, nyanyi pun tidak bisa. Jadi tidak benar kalau pecipta lagu Tanoh Lon Sayang adalah ayah saya,” ujar Teuku Irwan Johan sebagaimana kami kutip dari Atjehpost.co.


Berarti, besar kemungkinan Teuku Djohan yang dimaksud bukanlah Mayjen Teuku Djohan yang pernah menjadi Wakil Gubernur Aceh itu. Mungkin Teungku Johan yang lain yang mungkin seorang musikus sahabar dekat Anzib.


Teks Asli Lagu Aceh Lon Sayang

Menurut berbagai sumber, Lagu Tanoh Lon Sayang sebenarnya adalah versi pendek dari lagu karya Anzib Lamnyong berjudul Aceh Lon Sayang atau dalam ejaan lama ditulis ‘Atjeh Lon Sajang’. Meski tak ada bukti konkrit perubahan lagu Aceh Lon Sayang menjadi Tanoh Lon Sayang adalah kesepakatan bersama antara Teuku Djohan dan Anzib, yang pasti, lagu Aceh Lon Sayang diciptakan Anzib seorang diri. 


Ulasan Atjehpost.co dan musik.or.id menunjukkan lagu versi panjangnya dalam buku karya Anzib Lamnyong berjudul Irama Dairah Atjeh. Dalam buku yang diterbitkan tahun 1966 itu tertulis bahwa lagu Atjeh Lon Sajang diciptakan tahun dengan tulisan pada kanan atas terdapat tulisan :lagee ngoen sjaee (lagu dan lirik) ditulis oleh ANZIB.


Teks Asli Lagu Aceh Lon Sayang
(Foto: Atjehpost.co)


Berikut adalah lirik aslinya: 

ATJEH LON SAJANG 

1.
Dairah Atjeh tanoh lon sajang
Sabab disinan teumpat lon lahe
Tanoh keuneubah endatu mojang
Nibak teumpat njan lon udep mate

Di sinan teumpat gampong halaman,
Lampoh deungon blang luah bukon le
Laot ngon darat seuneubok ladang
Leupah le sinan djiteuka wase

2.
Mita raseuki tjari makanan,
Deungon peukajan bandum Tuhan bri
Hukum sjariat teeebet seumbahjang
Inong ngon agam geupubuet sare

Wareh ngon kawom karong ngon rakan,
Meuhimpon sinan hana tom meutjre
Meuaneuk tjutjo lam makmu aman
Han saeue sinan njang na meuseuke 

3.
Na pat lon peugah susah sukaran
Bak wareh rakan diuneuen ngon wie
Na soe tem tem tulong, 'oh matee alang
Na soe tem tanom, 'oh watee mate

Keuredja udep na soe peutimang
Na soeu peuseunang keureudja mate
Hate njang susah lon rasa seunang
Atjeh lon sajang sampoe 'an matee

Pada pengantar buku itu, Anzib mewanti-wanti bahwa semua syair dalam buku itu baru dapat dinyanyikan oleh orang lain atas persetujuannya. Ia bahkan melarang mengganti nada lagunya. 
Larangan itu ditulisnya dalam kalimat seperti ini:

Bandum sjae ngon panton dalam buku njoe, maseng-maseng ka na buku iramadji deungon not balok atawa not angka. Bek sagai-sagai geupeunjanji deungon lagu2 laen. (Semua syair dan pantun dalam buku ini, masing-masing sudah ada iramanya dengan not balok atau not angka. Jangan sekali-kali menyanyikannya dengan nada lain). 

Soe njang meunabsu keu buku iramadji, djeuet geulakee bak peungarangdji deungon geumeurunoe beukeubit-keubit. Meunjo ka djeuet ka geudeungo le pengarang, baro geubri peureuseutudjuan, djeuet geumeuen ditempat umum atau Studio RRI. (Barang siapa yang ingin iramanya, bisa meminta kepada pengarangnya dengan syarat dipelajari sungguh-sungguh. Kalau sudah mendapat persetujuan dari pengarang, barulah boleh dinyanyikan di tempat umum atau di Studio RRI).

Buhu ngen sjae dalam buku njoe nakeuh hak peungarang njang djeuet geutuntut nibak peungadelan meunurot peuratoran undang2 Negara Republik Indonesia. (Syair dalam buku ini adalah hak pengarang yang bisa dituntut di pengadilan menurut undang-undang Negara Republik Indonesia.

PEUNGARANG,
BANDA ATJEH, DJULI 1966



Anda pasti pernah mendengar tentang Hikayat Prang Sabi bukan? Lalu apa sebenarnya isi dari Hikayat Prang Sabi yang terkenal itu?

Hikayat Prang Sabi adalah sebuah Mahakarya Aceh berupa sastra berbentuk hikayat yang intinya berisi tentang seruan berperang melawan Belanda. Hikayat Prang Sabi sendiri dituliskan tahun 1881 oleh seorang Ulama Aceh bernama Haji Muhammad atau yang lebih dikenal sebagai Teungku Chik Pante Kulu. Teungku Chik Pante Kulu adalah seorang putra Aceh kelahiran Pante Kulu, Kemukiman Titue, Pidie. Menurut sebagian pendapat, Hikayat Prang Sabi ditulis oleh Teungku Chik Pante Kulu ketika beliau dalam perjalanan pulang dari Mekkah ke Aceh. Saat itu, Tengku Chik Pante Kulu yang sudah 28 tahun belajar di Mekkah, memutuskan pulang ke Aceh untuk melawan kolonial Belanda. Besar kemungkinan Hikayat Prang Sabi ditulisnya di atas kapal selama pelayarannya dari Arab ke Aceh.


Pengaruh Hikayat Prang Sabi dalam Sejarah Perang Aceh
 Teungku Chik Pante Kulu, Penulis Hikayat Prang Sabi.
Foto: Ist

Menurut sebagian pendapat yang lain, Hikayat Prang Sabi yang ditulis oleh Teungku Chik Pante Kulu adalah merupakan suruhan Ulama Aceh bernama Teungku Chik Abdul Wahab Tanoh Abee atau yang lebih dikenal dengan Teungku Chik Tanoh Abee. Hal ini bermula saat Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman meminta izin kepada Teungku Chik Tanoh Abee untuk berperang melawan Belanda. Saat itu Teungku Chik Tanoh Abee menanyakan pada Pada Teungku Chik di Tiro: “Soe yang muprang dan soe yang taprang? (Siapa yang berperang dan siapa yang akan diperangi?)”

Akhirnya, Teungku Chik Tanoh Abee merestui Teungku Chik di Tiro untuk mengobarkan peperangan terhadap Belanda. Dalam dukungannya, Teungku Chik Tanoh Abee mengarang sebuah versi Hikayat Prang Sabi dalam bahasa Arab yang dikhususkan untuk Panglima Prang. Sementara itu, ia meminta Teungku Chik Pante Kulu untuk menulis Hikayat Prang Sabi dalam huruf arab berbahasa Aceh yang dikhususkan untuk laskar perang. Hikayat Prang Sabi karangan Teungku Chik Pante Kulu inilah yang membawa pengaruh luar biasa dalam membangkitkan semangat jihad laskar Aceh dalam berperang melawan Belanda.

Salah satu bagian paling penting dari Hikayat Prang Sabi karangan Teungku Chik Pante Kulu adalah pada mukadimah. Bagian ini pula yang menunjukkan secara jelas tujuan ditulisnya hikayat tersebut. Setelah diawali dengan puji-pujian kepada Allah pencipta semesta alam, syair-syair pada mukadimah berlanjut pada seruan untuk turun perang. disamping itu juga disebutkan pahala-pahala yang diperoleh bagi orang-orang yang berjihad dalam prang Sabi.

Mahakarya Hikayat Prang Sabi ditulis oleh Teungku Chik Pante Kulu mendapatkan apresiasi yang luar biasa di mata dunia sampai sekarang, juga menjadi momok menakutkan bagi Belanda saat hikayat ini di kumandangkan kala itu. Seorang pengarang Belanda, Zentgraaf pernah menulis, "Para pemuda meletakan langkah pertamanya di medan perang atas pengaruh yang sangat besar dari karya sastra ini yang sangat menyentuh perasaan mereka yang mudah tersinggung. Ini karya sastra yang sangat berbahaya".

Menurut Zentgraaf, hikayat Prang Sabi telah menjadi momok yang sangat ditakuti Belanda saat itu, sehingga siapa saja yang diketahui menyimpan (apalagi membaca) Hikayat Prang Sabi, mereka akan mendapatkan hukuman dari pemerintah Hindia-Belanda. Sarjana Belanda ini menyimpulkan bahwa belum pernah ada karya sastra di dunia ini yang mampu membakar emosional manusia untuk rela berperang dan siap mati, kecuali Hikayat Prang Sabi karya Teungku Chik Pante Kulu dari Aceh. Karenanya, Belanda melarang membaca syair ini hingga tahun 1942.

Seorang sarjana barat lain, Prof. Dr. Anthoni Reid, ahli sejarah bangsa Autralia berkata: "Kegiatan para Ulama sekitar tahun 1880, telah menghasilkan sejumlah karya sastra baru yang berbentuk puisi kepahlawanan popular dalam lingkungan rakyat Aceh. Hikayat Prang Sabi adalah yang paling masyhur dalam membangkitkan semangat perang suci". Itu sebabnya, Sejarawan Aceh, Prof. Ali Hasjmy menilai bahwa hikayat Prang Sabi yang ditulis Tengku Chik Pante Kulu telah berhasil menjadi karya sastra puisi terbesar di dunia.


Kitab Hikayat Prang Sabi
Kitab Hikayat Prang Sabi yang Melegenda.
Foto: Ist

Menurut Hasjmy, Kitab Hikayat Prang Sabi adalah hikayat perang suci yang dibacakan dihalayak ramai dengan dua tujuan utama. Pertama untuk merekrut (mobilisasi) para pemuda (rakyat) untuk berperan aktif dalam perang melawan penjajahan Belanda. Kedua, untuk mengumpulkan biaya perang secara cepat dan praktis. Dengan demikian, kedua tujuan itu dicapai dengan sangat baik.

Menurut sebagian pendapat, Hikayat Prang Sabi biasanya didendangkan oleh seorang tukang cerita (Shahibul Hikayat) dengan suaranya yang khas, sementara beberapa orang yang lain akan berperan aktif dibagian-bagian hikayat yang menggugah perasaan mereka seperti menunjukan kebencian terhadap kafir penjajah atau dalam kalimat-kalimat tauhid yang dibacakan dalam syair. Memang, dalam kitab Hikayat Prang Sabi sangat banyak dijumpai kalimat-kalimat tauhid, terutama saat terjadi pergantian dari satu kisah ke kisah yang lain. Maka, dapat kita bayangkan betapa besar efeknya saat kalimat ikhlas tersebut berkumandang bergemuruh di Gampung atau arena keramaian tempat dibacakannya hikayat tersebut.

Pembacaan Hikayat Prang Sabi biasanya ditutup dengan pendaftaran pemuda-pemuda yang ingin berperang serta melakukan penghimpunan sumbangan. Disamping itu, hikayat ini dibaca secara perorangan. Pernah diceritakan, seorang penduduk kampung Peurada, Kemukiman Kayee Adang, daerah Mukim XXVI --sekarang Kecamatan Inginjaya-- bernama Leem Abah dengan penuh heroik menikam Belanda di Pekan Aceh. Pada suatu malam, Leem Abah mendengar seseorang membaca Hikayat Prang Sabi. Besoknya, di depan Societeit Atjeh Clup --sekarang Balai Teuku Umar--, saat dijumpainya seorang Belanda sedang berjalan-jalan, mendadak Leem Abah menghunus rencongnya yang disembunyikan dalam lipatan kain dan ditikamnya Belanda itu tepat pada dadanya. Belanda itu pun mati ditempat.

Ulama dan pujanggawan kelahiran 1836 M. di Desa Pante Kulu, Kemukiman Titeue, Kota Bakti, Pidie, memang telah lama meninggalkan kita. Namun, Hikayat Prang Sabi yang ditinggalkannya masih tetap hidup di relung-relung jiwa anak bangsa Aceh sampai sekarang. Ini adalah sebuah hasil karya sastra terbesar yang diakui dunia dan harus diteladani oleh generasi-generasi Aceh masa kini dan masa depan untuk menciptakan karya pembakar semangat juang Prang berbentuk Dakwah-Jihad.






MKRdezign

{facebook#https://facebook.com/} {twitter#https://twitter.com/SeuramoeJeumpa} {google-plus#https://plus.google.com/u/0/104845329941163045524}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget