[img url="/" rel="SEURAMOE JEUMPA" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEguWqHiFYQTp3t31kCg0IyKCB3Sxs-_AcL-DPfjR4xmo0kARX1hK1An2ZJBLYXfawhiOpKhzFmBj4ogfVGZOC2vd1hQB2zOaFW585dZT5aAhNqwZrebEfR9JfzWpPgj4jpHikCxyjGJfPw/s1600/10419684519072686025.gif"/]
Articles by "News"

JAKARTA - Seluruh fraksi di Komisi X DPR RI menyatakan dukungan penuh, diusulkannya Laksamana Pocut Meurah Keumalahayati sebagai pahlawan nasional. Menindaklanjuti gagasan tersebut, Pemerintah Aceh diminta mengajukan usulan secara tertulis kepada Presiden melalui Menteri Sosial.

Persetujuan penuh fraksi-fraksi Komisi X itu dicapai dalam rapat dengar pendapat umum Komisi X dengan pengurus organisasi Kongres Wanita Indonesia (Kowani), di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (6/6/2017).

Ketua Komisi X DPR, Teuku Riefky Hasrya, bersama pengurus Kowani, dan Sultanah Putroe Safiatuddin Cahaya Nur'ala, cucu sultan terakhir Aceh (kedua dari kanan), di ruang rapat Komisi X DPR RI dalam rapat usulan Laksamana Keumalahayati menjadi Pahlawan Nasional

Dalam rapat yang dipimpin Ketua Komisi X, Teuku Riefky Harsya tersebut dihadiri Ketua Umun Kowani, Dr Ir Giwo Rubanto Wiyogo MPd, Sekjen Kowani, Titien Pamudji SIP, dan sejumlah pengurus Kowani lainnya. Rapat tersebut juga dihadiri Sultanah Putroe Safiatuddin, Cahaya Nur’alam, cucu sultan terakhir Aceh, Sultan Alaidin Muhammad Daudsyah, dan penulis sejarah Aceh, Pocut Haslinda Syahrul.

Ketua Komisi X DPR RI, Teuku Riefky Harsya, menyatakan Komisi X akan meminta kepada Pimpinan DPR RI mengeluarkan Surat Rekomendasi terhadap usulan pencalonan Laksamana Keumalahayati sebagai pahlawan nasional kepada Pemerintah.

“Kesepakatan seluruh fraksi adalah menyetujui diusulkannya Keumalahayati sebagai pahlawan nasional. Kami mendukung 1000 persen,” ucapnya.

Ide direkomendasikannya kepahlawanan Keumalahayati diajukan Kowani, federasi dari 90 organisasi wanita tingkat nasional yang berdiri sejak 22 Desember 1928. Organisasi tersebut sepakat merekomendasikan Laksamana Keumalahayati sebagai pahlawan nasional, setelah mempelajari sejarah dan sepak terjang Keumalahayati yang memimpin Armada Laut Kesultanan Aceh pada abad ke-16.

“Peran dan kebesaran Keumalahayati adalah fakta. Itu bukan dongeng. Bangsa Indonesia memiliki teladan seperti Keumalahayati, karenanya kami sepakat merekomendasikannya sebagai pahlawan nasional,” kata Ketua Umum Kowani Giwo Rubanto.

Giwo juga menjelaskan, Laksamana Keumalahayati adalah laksamana perempuan muslim dunia pertama yang memimpin armada perang. Kesatuan TNI Angkatan Laut telah pula mengabadikan nama Keumalahayati dalam kapal perang KRI Keumalahayati pada 1987. Nama Keumalahayati juga ditabalkan sebagai nama sejumlah gedung, rumah sakit, serta lembaga pendidikan.

“Sehingga Kowani sangat ingin Laksamana Keumalahati diusulkan sebagai pahlawan nasional,” kata Giwo.

Giwo juga mengatakan, menambahkan pengukuhan kepahlawanan Keumalahayati harus dilakukan melalui usulan tertulis dari Gubernur Aceh. Usulan paling lambat sudah harus diterima Menteri Sosial sebelum 16 Juni 2017, sehingga bisa dikukuhkan pada 10 November 2017.

Menurut keterangannya, Kowani sudah menyurati Gubernur Aceh, tapi belum memperoleh respon.”Kita harapkan melalui Komisi X, bisa menindaklanjuti hal ini,” ujanya.

Disebutkan saat ini baru ada 12 pahlawan wanita Indonesia, yaitu Martha Christina Tiahuhu, Nyi Ageng Serang, Cut Nyak Dhien, Cut Nyak Meutia, RA Kartini, Maria Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyi. Hj. Siti Walidah Ahmad Dahlan, Hj. Rangkayo Rasuna Said, Po Daeng Risaju, Fatmawati Soekarno, Siti Hartinah Soeharto.

Saat Syeikh Abdelrahman saat memimpin shalat di Masjid utama di negeri yang dijuluki Serambi Mekkah ini, pada malam pertama Ramadhan 1438 H, atau Jumat (26/5/2017) lalu, tak sanggup menahan haru. Ini adalah pertama kalinya memasuki Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.

 “Saya menangis terharu melihat antusiasme masyarakat melaksanakan shalat Tarawih di Masjid (Baiturrahman). Sampai memacetkan beberapa ruas jalan di sekitar masjid,” ungkap Syeikh asal Mesir ini.

Syeikh Abdelrahman Eldesouky
Syeikh Abdelrahman Eldesouky Tak Sanggup Menahan Haru Saat Masuk Baiturrahman

Hal itu disampaikan Syeikh Abdelrahman bernama lengkap Syeikh Abdelrahman Eldesouky Taha Radwan dalam bahasa Arab di tempat penginapannya di Hotel Grand Permata Hati, Ulee Lheue, Banda Aceh, didampingi oleh Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Aceh, Ustaz Fachruddin Lahmuddin SAg MPd, sekaligus bertindak sebagai penerjemah.

Syeikh kelahiran Gharbiah, Mesir, 12 Mei 1964 ini melanjutkan, suasana Tarawih di Masjid Baiturrahman malam itu benar-benar mengingatkan dirinya seperti sedang berada di Masjidil Haram, Mekkah dimana jamaah berdesak-desakan untuk shalat dan melaksanakan berbagai ibadah lainnya kepada Allah.

Bagi Syeikh Abdelrahman, ini adalah kali pertama ia menginjakkan kakinya di bumi Serambi Mekkah. Ia diundang oleh Pengurus Wilayah Dewan Masjid Indonesia (DMI) Aceh dan Pemerintah Aceh untuk menjadi imam shalat Tarawih di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh selama sebulan penuh dalam Ramadhan tahun ini.

Syeikh Abdelrahman menuturkan, salah satu motivasi dirinya memenuhi undangan DMI Aceh adalah karena ingin melihat dan membuktikan langsung semangat keagamaan dan beribadah masyarakat Aceh. Sebab selama ini dirinya hanya mendengar Aceh merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang mayoritas masyarakatnya muslim dan memiliki semangat keagamaan yang cukup baik. “Saat saya tiba ke Aceh, ternyata informasi itu benar-benar terbukti,” ujarnya.

Direktur Lembaga Alquran Universitas Al-Azhar di Provinsi Gharbiah ini juga merasa tak keliru memilih untuk memenuhi undangan ke Aceh pada Ramadhan 1438 Hijriah tahun ini. Sebab, ia merasa penyambutan yang diterimanya luar biasa atau jauh lebih baik dari yang diperkirakan sebelumnya. Baik makanan, tempat tinggal, atau fasilitas lain yang diterimanya tak ada yang kurang sesuatu apapun.

“Jadi, saya merasa datang ke Aceh seperti masuk ke rumah keluarga sendiri. Saya tidak merasa sebagai orang asing di sini, apalagi umat muslim Aceh menurut saya sangat mencintai agamanya. Insya Allah saya bisa menyelesaikan tugas selama sebulan di Aceh,” ungkap Syeikh.

Sebenarnya, tahun ini Syeikh juga menerima undangan untuk menjadi imam Tarawih dari komunitas muslim di Australia. “Tapi, karena ingin melihat Aceh dan sudah terbiasa dengan komunitas Melayu, makanya saya lebih memilih datang ke Aceh. Sebelumnya saya juga pernah memenuhi undangan muslim di Prancis,” ungkap Syeikh yang memiliki empat anak ini.

Dikatakan, dirinya memenuhi undangan ke berbagai negara khusus pada bulan Ramadhan. Sebab, di luar bulan Ramadhan ia harus melaksanakan tugas rutin sebagai Direktur Lembaga Tahfiz Alquran Al-Azhar di Provinsi Gharbiah, Mesir.

Soal makanan yang disuguhkan kepadanya selama di Aceh, Syeikh Abdel Rahman mengatakan, makanan di Aceh tak jauh beda dengan di Malaysia. “Saya sudah sangat terbiasa dengan makanan Melayu karena sudah 12 tahun datang ke Malaysia setiap bulan Ramadhan. Jadi, makanan di Aceh tak masalah bagi saya. Yang penting, makanannya halal dan tidak berbahaya bagi kesehatan,” timpal Syeikh yang saat itu memakai busana kebesaran Universitas Al-Azhar.

Ia juga mengatakan, perhatian untuk membangun, memelihara, dan memakmurkan masjid di Aceh mungkin nomor dua di dunia setelah Arab Saudi.
Sehubungan dengan datangnya bulan Ramadhan tahun ini, ia mengajak seluruh umat Islam untuk bersyukur kepada Allah SWT karena sudah dipertemukan kembali dengan bulan yang penuh dengan rahmat, ampunan (maghfirah), dan pembebasan dari api neraka ini.

“Jadi, mari kita manfaatkan kelebihan-kelebihan bulan suci ini. Gunakan bulan latihan menahan hawa nafsu ini untuk mencapai derajat takwa yang permanen agar sepanjang hayat kita tetap taat dan ikut perintah Allah SWT. Mudah-mudahan semua amalan yang kita kerjakan selama Ramadhan, dapat terus berlanjut di luar bulan Ramadhan,” pesan Syeikh.

BANDA ACEH -- Proyek pembangunan jembatan Krueng Tingkeum, Kutablang, Kabupaten Bireuen, masih terbengkalai. Karenanya masyarakat sekitar harus menggunakan rakit untuk menyeberang. Sementara kondisi badan jalannya yang juga belum teraspal menyebabkan musim kemarau banyak debu, sedangkan pada musim hujan, badan jalannya menjadi becek.

Jembatan Krueng Tingkeum Terbengkalai
Jalan alternatif yang terlalu jauh, masyarakat memilih menumpang boat untuk menyeberangi Krueng Tingkeum, Kutablang, Bireuen, dengan harus membayar Rp. 5.000 untuk sekali jalan

Sejak jembatan itu dibongkar maret lalu, masyarakat yang berada di sebelah kanan sungai (Banda Aceh-Medan), yaitu Desa Tingkeum Baro, Pulo Reudeup, Geulanggang, Muenje, Cot Ara, dan lainnya yang hendak ke pasar Kutablang harus putar jalan sepanjang 8,5 km, melintasi jembatan rangka baja Mon Kelayu, jalan Samuti Aman, dan terakhir ke ujung jembatan sebelah timur, baru bisa tiba ke pasar Kutablang.

Sementara asyarakat yang berada di sebelah kiri sungai (Medan-Banda Aceh) yang ingin ke Matanggeulumpang Dua harus putar jalan sepanjang 7,5 km melintasi jalan Desa Tingkeum Manyang, Blang Mee, Pante Baro, Kubu, melewati jembatan rangka baja Pante Lhong terus ke simpang empat Gie Kapal, kembali ke jalan nasional.

Dalam sebulan terakhir, untuk memperpendek rute jalan yang memutar itu, sudah ada beberapa kelompok masyarakat yang menyediakan rakit penyeberangan. Tarif penyeberangannya untuk sekali jalan adalah Rp 5.000/sepmor bersama pengenderanya. Tak tanggung-tanggung, kadang dalam satu hari, ada dua sampai empat kali masyarakat harus menyeberang, biayanya bisa mencapai Rp 20.000.

Sedikit kemudahan itu hanya dirasakan oleh pengguna sepeda motor, tidak dengan kendaraan lainnya. Kendaraan seperti mobil penumpang umum, barang, dan mobil pribadi, terpaksa harus melintasi jalan alternative yang panjang berlekok dan berdebu itu.

Mendapat laporan tersebut, Gubernur Aceh, dr Zaini Abdullah meminta kepada Satker Jalan Nasional I Aceh yang bertanggung jawab terhadap pembangunan kembali jembatan Krueng Tingkeum tersebut agar bisa mempercepat pelaksanaan pembangunannya.

“Hampir setiap hari masyarakat yang berada di jalur alternatif mempertanyakan kepada kami, kapan pembangunan jembatan Krueng Tingkeum yang terletak di ruas jalan nasional tersebut dibangun kembali. Mereka sudah tak tahan dengan debu jalan dan harus mengeluarkan dana Rp 5.000 untuk satu kali penyeberangan naik rakit,” kata Zaini Abdullah pada pertemuan dengan Kepala Balai PU Jalan Nasional I Aceh, Faturrahman dan sejumlah Kasetker maupun PPK Jalan Nasional, Senin (5/6/2017) malam di Pendapa Gubernur Aceh.

Selanjutnya, Gubernur Zaini mengingatkan kepada Kasatker dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Jalan Nasional Wil I Aceh, untuk terus memelihara rute jalan alternatif Jembatan Krueng Tingkeum itu dengan baik mengingat tiga minggu lagi sudah masuk kegiatan angkutan Lebaran yang pastinya aktivitas dan volume kendaraan meningkat dari kondisi normalnya.

Menanggapi permintaan Zaini tersebut, Kepala Kasatker PU Jalan Nasional I Aceh, Faturrahman Raden, didampingi Kasatker dan PPK-nya mengatakan, proses tender proyek pembangunan jembatan Krueng Tingkeum itu telah selesai dan pemenangnya juga sudah ada, yaitu PT Reskarya Joint Operational dengan perusahaan lokal.

Menurut laporan kontraktor, kata PPK Kasatker Jalan Nasional, Amri, kontraktor pemenang proyek jembatan Tingkeum saat ini sedang dalam pengiriman besi tiang pancang jembatan dari Lampung ke Aceh.

Menunggu tiba tiang pancang jembatan di lokasi, sekaranag ini kontraktor telah melakukan persiapan pekerjaan, apa saja yang bisa dikerjakan lebih dulu, akan dikerjakan. Misalnya, melakukan pengukuran untuk pembangunan kepala jembatan.

Tanggung jawab lainnya, lanjut Amri, pemeliharaan badan jalan alternatif. Jalan yang berlubang ditimbun dan kemudian digilas pakai mesin gilas untuk memeratakannya. Setiap hari sudah disediakan dua alat berat untuk meratakan badan jalan yang berlubang tersebut.

Sementara itu, Kapolres Bireuen, AKBP Riza Yulianto SE SH menilai, kondisi ruas jalan alternatif sebelah utara jembatan Krueng Tingkeum, Kutablang, Kabupaten Bireuen, dapat dianggap memadai. Kendaraan besar, sedang, maupun kecil bisa melintas, namun dibeberapa tempat memang telah berlubang dan bergelombang, sehingga itu perlu segera diperbaiki, mengingat tak lama lagi akan memasuki mudik lebaran.


Menurut informasi yang dihimpun, 48 tiang pancang dan perangkat lainnya untuk pembangunan jembatan Krueng Tingkeum yang didatangkan dari Jakarta kini dalam perjalanan ke Bireuen. Diperkirakan, pada 20 Ramadhan tiang-tiang pancang tersebut tiba ke Bireuen. Sedangkan pembangunan jembatan baru akan dimulai seusai Lebaran Idul Fitri dan akan rampung akhir Desember 2017.

 Sejarah telah mencatat, Aceh adalah daerah pertama masuk Islam  ke  Indonesia. Sejak abad pertama Hijrah (8 M), agama  Islam sudah masuk ke Timur Aceh, yakni Peureulak yang kemudian berkembang sampai ke Pasee, Aceh Utara‎. Sejarah juga mencatat, kerajaan Islam Samudra Pasee kala itu telah  menjalin hubungan diplomatik dengan luar negeri.
Aceh Telah Dibuat Tugu Titik Nol Peradaban Islam Tahun 1984, Jokowi Malah Kembali Resmikan Barus
(Foto:Ist)

Aceh yang merupakan daerah pertama masuk Islam bukan sekadar cerita rakyat dan lagenda, tetapi merupakan hasil penelitian para sarjana, ahli sejarah, dan arkeolog. Hal tersebut telah tertulis dengan baik dalam kitab maupun batu nisan. Pada tahun 1963 pernah dibuat seminar tentang peradaban islam tertua yang dihadiri para pakar seluruh dunia Islam dan mengukuhkan Pereulaklah yang memiliki peradaban Islam tertua nusantara.
Karena hal tersebut pula Aceh juga diberi gelar Serambi Mekkah. Dalam kitab ‘Idharul Haq’ karya Syeikh Ishaq Al-Makarani, telah menyebutkan siilsilah raja-raja Pereulak yang beragama Islam, kemudian dilanjutkan oleh raja-raja Pasee. Sementara daerah lain ketika itu masih beragama Hindu dan Budha. Orang Aceh punya kebanggaan sendiri sebagai daerah pertama masuk Islam, apalagi  telah diakui sejarawan dunia, baik Islam maupun non islam.
Negara-negara tetangga seperti Malaysia, Pattani/Thailand, Brunei Darussalam, Mesir, Arab Saudi, India, Belanda, Pakistan telah mengakui hal tersebut, dan telah mereka tuliskan dalam berbagai buku mereka.
Namun, baru-baru ini sudah ada orang yang ingin melenyapkan klem peradaban Aceh sebagai daerah pertama masuk dan berkembangnya Islam. Mereka mulai menulis berbagai buku tafsiran terbaru tanpa bukti outentik untuk menghancurkan klem tersebut.
Mereka mengklaim Barus lebih awal dari Aceh dengan hanya menunjukkan nisan-nisan tua polos tanpa catatan. Hanya dengan bukti tak otentik tersebut, di Kelurahan Pasar Barus Gerigis, Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara telah dibuat Monumen “Barus Titik Nol Masuk Islam ke Nusantara”. Parahnya lagi, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) pun dengan terlalu tergesa-gesa meresmikan Tugu Titik Nol Pusat Peradaban Islam Nusantara itu pada Jumat, 24 Maret 2017 kemarin.
Monumen Barus tersebut tentu tak rasional. Fakta membuktikan, Peureulak telah dibuat monument pada tahun 1984 dan belum diselesaikan sampai sekarang, malah telah dibangung monument baru dengan menghancurkan bukti-bukti yang ada. Aceh sebagai daerah pertama masuk Islam, secara historis juga sangat dirugikan.
Hal ini membuat geram banyak Sejarawan Aceh dan Dunia. Penulis Novel Sejarah, Putra Gara, mengecam peresmian itu. Dengan lantangnya ia mengatakan Jokowi tidak mengerti sejarah. Ia siap menjadi pemateri sejarah kepada Jokowi dan siapa saja yang membuat klem baru tersebut untuk membeberkan kebenaran.
“Jokowi Tidak Mengerti Sejarah. Barus Bukan Tempat Peradaban Islam Tertua. Barus sebelum masehi hanya pelabuhan besar, di mana tempat mengangkut rempah-rempah, kapur barus, kayu dll ke beberapa belahan dunia, salah satunya ke Timur Tengah,” Ujar Putra Gara.
“Kesultanan Barus baru ada abad 14 Masehi. Sementara Islam masuk ke Jeumpa (Aceh) abad ke 7. Cicitnya Rosulullah, anaknya Husein, pasca perang di Karbala, merapat di Jeumpa, dan menikah dengan seorang putri raja Jeumpa, yang anaknya kelak mendirikan kerajaan Peureulak,” Semprotnya.
Selain itu, Sastrawan Aceh yang lain yang juga murid kesayangan Ali Hasjmy,  H. Ameer Hamzah mengatakan, ada kemungkinan sejarah sengaja dikotak-katik untuk tujuan melemahkan peran Aceh.
“Mungkin sebab ketidaksukaan mereka kepada Aceh yang kerap memborontak (DI/TII, GAM) karena meminta otonomi pengegakan Syariat Islam. Nampak jelas bahwa orang-orang Islam sekuler dan non-muslim sedang berupaya menghapuskan Aceh sebagai daerah yang berjasa terhadap perkembangan Islam Nusantara,” Ujarnya.
Sementara itu, pemerhati sejarah Aceh, Mustafa, mengatakan Presiden Jokowi sudah tidak membaca dan tidak mengerti sejarah.
“Kalau hanya hasil historinya mengacu pada makam, sangat mustahil sebuah daerah bisa ditetapkan, dan sejarawan mana yang berani mengeklaim bahwa Barus adalah pertama masuknya Islam ke Indonesia, apa tidak dibaca sejarah atau tidak tau sejarah,” paparnya.
“Islam pertama di Indonesia adalah Samudra Pasai Peureulak, Aceh Timur. Pada saat itu, pedagang Barus sering ke Selat Malaka untuk menjual batu kapur, mereka belum Islam, namun Peureulak sudah menjadi kerajaan Islam, kan aneh jika kota Barus ditetapkan sebagai masuknya Islam di Indonesia,” semprotnya.
Masyarakat pencinta Sejarah Aceh ini menduga kuat peresmian Kota Barus sebagai kilometer nol Islam Nusantara tidak terlepas dari kepentingan pribadi Presiden Jokowi.
“Ada kepentingan apa tiba-tiba Jokowi langsung menetapkan, apakah sebelumnya sudah uji publik dan menggelar seminar seperti ditetapkan Samudra Pasai sebagai daerah pertama masuknya Islam ke Indonesia bahkan Asia Tenggara,” simpulnya.
Dari penelusuran kami, ada berbagai referensi buku yang memperkuat Aceh sebagai daerah pertama masuk Islam sangat antara lain; Kitab Idharul Haq, (Ishaq Makarani), Islam Fil Biladil Indonesia, (Ahmad al- Usairy)  Silsilah Tarikh Islamy (Mahmud Syajir), Rihlah Ibnu Batutah (Ibnu Batutah), Almuslimun Fil  al-Alam (Abdurrahman Zaki, Al-Islam fi Indonesia (Muhammad Dhiya’ da Abdullah Nuh), Sejarah Ummat Islam (Hamka) dan Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Nusantara oleh Prof Ali. Hasjmy.
Tak hanya itu, banyak pula sejarawan baik dari dalam atau luar negeri seperti China, Malaysia, Belanda, Pattani-Thailand, Arab Saudi, Tunisia dan Mesir yang mengakui bahwa Aceh adalah daerah pertama penyebaran Islam di Nusantara.

Adapun sejarawah tersebut yaitu Ibnu Batutah (Tunisia), Laksamana Cheng Ho (China), Prof. Dr. Hamka, Prof. Dr. Ibrahim Alfian (UGM) Prof. Ali Hasjmy (UIN Ar-Raniry),  Prof. Dr. Naguib Al-Atas (Malaysia), Prof. Dr. AJ Pijkar (Belanda), Prof Dr. Muarif  Ambari (UI), Prof, Dr. Abubakar Atjeh (UIN Jakarta), Prof Datok Burhan (Malaysia), Prof. Dr. C. Snoeck Hurgronye (Belanda),  Ismail Benjasmish (Pattani-Thailand), Dr. Ahmad Al Usairy (Arab Saudi), Prof Dr. Ahmad Syalabi (Mesir). Dan masih banyak lagi yang tak dapat disebutkan dalam ruang terbatas ini.

MKRdezign

{facebook#https://facebook.com/} {twitter#https://twitter.com/SeuramoeJeumpa} {google-plus#https://plus.google.com/u/0/104845329941163045524}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget