[img url="/" rel="SEURAMOE JEUMPA" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEguWqHiFYQTp3t31kCg0IyKCB3Sxs-_AcL-DPfjR4xmo0kARX1hK1An2ZJBLYXfawhiOpKhzFmBj4ogfVGZOC2vd1hQB2zOaFW585dZT5aAhNqwZrebEfR9JfzWpPgj4jpHikCxyjGJfPw/s1600/10419684519072686025.gif"/]
Latest Post

Anda pasti pernah mendengar tentang Hikayat Prang Sabi bukan? Lalu apa sebenarnya isi dari Hikayat Prang Sabi yang terkenal itu?

Hikayat Prang Sabi adalah sebuah Mahakarya Aceh berupa sastra berbentuk hikayat yang intinya berisi tentang seruan berperang melawan Belanda. Hikayat Prang Sabi sendiri dituliskan tahun 1881 oleh seorang Ulama Aceh bernama Haji Muhammad atau yang lebih dikenal sebagai Teungku Chik Pante Kulu. Teungku Chik Pante Kulu adalah seorang putra Aceh kelahiran Pante Kulu, Kemukiman Titue, Pidie. Menurut sebagian pendapat, Hikayat Prang Sabi ditulis oleh Teungku Chik Pante Kulu ketika beliau dalam perjalanan pulang dari Mekkah ke Aceh. Saat itu, Tengku Chik Pante Kulu yang sudah 28 tahun belajar di Mekkah, memutuskan pulang ke Aceh untuk melawan kolonial Belanda. Besar kemungkinan Hikayat Prang Sabi ditulisnya di atas kapal selama pelayarannya dari Arab ke Aceh.


Pengaruh Hikayat Prang Sabi dalam Sejarah Perang Aceh
 Teungku Chik Pante Kulu, Penulis Hikayat Prang Sabi.
Foto: Ist

Menurut sebagian pendapat yang lain, Hikayat Prang Sabi yang ditulis oleh Teungku Chik Pante Kulu adalah merupakan suruhan Ulama Aceh bernama Teungku Chik Abdul Wahab Tanoh Abee atau yang lebih dikenal dengan Teungku Chik Tanoh Abee. Hal ini bermula saat Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman meminta izin kepada Teungku Chik Tanoh Abee untuk berperang melawan Belanda. Saat itu Teungku Chik Tanoh Abee menanyakan pada Pada Teungku Chik di Tiro: “Soe yang muprang dan soe yang taprang? (Siapa yang berperang dan siapa yang akan diperangi?)”

Akhirnya, Teungku Chik Tanoh Abee merestui Teungku Chik di Tiro untuk mengobarkan peperangan terhadap Belanda. Dalam dukungannya, Teungku Chik Tanoh Abee mengarang sebuah versi Hikayat Prang Sabi dalam bahasa Arab yang dikhususkan untuk Panglima Prang. Sementara itu, ia meminta Teungku Chik Pante Kulu untuk menulis Hikayat Prang Sabi dalam huruf arab berbahasa Aceh yang dikhususkan untuk laskar perang. Hikayat Prang Sabi karangan Teungku Chik Pante Kulu inilah yang membawa pengaruh luar biasa dalam membangkitkan semangat jihad laskar Aceh dalam berperang melawan Belanda.

Salah satu bagian paling penting dari Hikayat Prang Sabi karangan Teungku Chik Pante Kulu adalah pada mukadimah. Bagian ini pula yang menunjukkan secara jelas tujuan ditulisnya hikayat tersebut. Setelah diawali dengan puji-pujian kepada Allah pencipta semesta alam, syair-syair pada mukadimah berlanjut pada seruan untuk turun perang. disamping itu juga disebutkan pahala-pahala yang diperoleh bagi orang-orang yang berjihad dalam prang Sabi.

Mahakarya Hikayat Prang Sabi ditulis oleh Teungku Chik Pante Kulu mendapatkan apresiasi yang luar biasa di mata dunia sampai sekarang, juga menjadi momok menakutkan bagi Belanda saat hikayat ini di kumandangkan kala itu. Seorang pengarang Belanda, Zentgraaf pernah menulis, "Para pemuda meletakan langkah pertamanya di medan perang atas pengaruh yang sangat besar dari karya sastra ini yang sangat menyentuh perasaan mereka yang mudah tersinggung. Ini karya sastra yang sangat berbahaya".

Menurut Zentgraaf, hikayat Prang Sabi telah menjadi momok yang sangat ditakuti Belanda saat itu, sehingga siapa saja yang diketahui menyimpan (apalagi membaca) Hikayat Prang Sabi, mereka akan mendapatkan hukuman dari pemerintah Hindia-Belanda. Sarjana Belanda ini menyimpulkan bahwa belum pernah ada karya sastra di dunia ini yang mampu membakar emosional manusia untuk rela berperang dan siap mati, kecuali Hikayat Prang Sabi karya Teungku Chik Pante Kulu dari Aceh. Karenanya, Belanda melarang membaca syair ini hingga tahun 1942.

Seorang sarjana barat lain, Prof. Dr. Anthoni Reid, ahli sejarah bangsa Autralia berkata: "Kegiatan para Ulama sekitar tahun 1880, telah menghasilkan sejumlah karya sastra baru yang berbentuk puisi kepahlawanan popular dalam lingkungan rakyat Aceh. Hikayat Prang Sabi adalah yang paling masyhur dalam membangkitkan semangat perang suci". Itu sebabnya, Sejarawan Aceh, Prof. Ali Hasjmy menilai bahwa hikayat Prang Sabi yang ditulis Tengku Chik Pante Kulu telah berhasil menjadi karya sastra puisi terbesar di dunia.


Kitab Hikayat Prang Sabi
Kitab Hikayat Prang Sabi yang Melegenda.
Foto: Ist

Menurut Hasjmy, Kitab Hikayat Prang Sabi adalah hikayat perang suci yang dibacakan dihalayak ramai dengan dua tujuan utama. Pertama untuk merekrut (mobilisasi) para pemuda (rakyat) untuk berperan aktif dalam perang melawan penjajahan Belanda. Kedua, untuk mengumpulkan biaya perang secara cepat dan praktis. Dengan demikian, kedua tujuan itu dicapai dengan sangat baik.

Menurut sebagian pendapat, Hikayat Prang Sabi biasanya didendangkan oleh seorang tukang cerita (Shahibul Hikayat) dengan suaranya yang khas, sementara beberapa orang yang lain akan berperan aktif dibagian-bagian hikayat yang menggugah perasaan mereka seperti menunjukan kebencian terhadap kafir penjajah atau dalam kalimat-kalimat tauhid yang dibacakan dalam syair. Memang, dalam kitab Hikayat Prang Sabi sangat banyak dijumpai kalimat-kalimat tauhid, terutama saat terjadi pergantian dari satu kisah ke kisah yang lain. Maka, dapat kita bayangkan betapa besar efeknya saat kalimat ikhlas tersebut berkumandang bergemuruh di Gampung atau arena keramaian tempat dibacakannya hikayat tersebut.

Pembacaan Hikayat Prang Sabi biasanya ditutup dengan pendaftaran pemuda-pemuda yang ingin berperang serta melakukan penghimpunan sumbangan. Disamping itu, hikayat ini dibaca secara perorangan. Pernah diceritakan, seorang penduduk kampung Peurada, Kemukiman Kayee Adang, daerah Mukim XXVI --sekarang Kecamatan Inginjaya-- bernama Leem Abah dengan penuh heroik menikam Belanda di Pekan Aceh. Pada suatu malam, Leem Abah mendengar seseorang membaca Hikayat Prang Sabi. Besoknya, di depan Societeit Atjeh Clup --sekarang Balai Teuku Umar--, saat dijumpainya seorang Belanda sedang berjalan-jalan, mendadak Leem Abah menghunus rencongnya yang disembunyikan dalam lipatan kain dan ditikamnya Belanda itu tepat pada dadanya. Belanda itu pun mati ditempat.

Ulama dan pujanggawan kelahiran 1836 M. di Desa Pante Kulu, Kemukiman Titeue, Kota Bakti, Pidie, memang telah lama meninggalkan kita. Namun, Hikayat Prang Sabi yang ditinggalkannya masih tetap hidup di relung-relung jiwa anak bangsa Aceh sampai sekarang. Ini adalah sebuah hasil karya sastra terbesar yang diakui dunia dan harus diteladani oleh generasi-generasi Aceh masa kini dan masa depan untuk menciptakan karya pembakar semangat juang Prang berbentuk Dakwah-Jihad.






 Sejarah telah mencatat, Aceh adalah daerah pertama masuk Islam  ke  Indonesia. Sejak abad pertama Hijrah (8 M), agama  Islam sudah masuk ke Timur Aceh, yakni Peureulak yang kemudian berkembang sampai ke Pasee, Aceh Utara. Sejarah juga mencatat, kerajaan Islam Samudra Pasee kala itu telah  menjalin hubungan diplomatik dengan luar negeri.
Aceh Telah Dibuat Tugu Titik Nol Peradaban Islam Tahun 1984, Jokowi Malah Kembali Resmikan Barus
(Foto:Ist)

Aceh yang merupakan daerah pertama masuk Islam bukan sekadar cerita rakyat dan lagenda, tetapi merupakan hasil penelitian para sarjana, ahli sejarah, dan arkeolog. Hal tersebut telah tertulis dengan baik dalam kitab maupun batu nisan. Pada tahun 1963 pernah dibuat seminar tentang peradaban islam tertua yang dihadiri para pakar seluruh dunia Islam dan mengukuhkan Pereulaklah yang memiliki peradaban Islam tertua nusantara.
Karena hal tersebut pula Aceh juga diberi gelar Serambi Mekkah. Dalam kitab ‘Idharul Haq’ karya Syeikh Ishaq Al-Makarani, telah menyebutkan siilsilah raja-raja Pereulak yang beragama Islam, kemudian dilanjutkan oleh raja-raja Pasee. Sementara daerah lain ketika itu masih beragama Hindu dan Budha. Orang Aceh punya kebanggaan sendiri sebagai daerah pertama masuk Islam, apalagi  telah diakui sejarawan dunia, baik Islam maupun non islam.
Negara-negara tetangga seperti Malaysia, Pattani/Thailand, Brunei Darussalam, Mesir, Arab Saudi, India, Belanda, Pakistan telah mengakui hal tersebut, dan telah mereka tuliskan dalam berbagai buku mereka.
Namun, baru-baru ini sudah ada orang yang ingin melenyapkan klem peradaban Aceh sebagai daerah pertama masuk dan berkembangnya Islam. Mereka mulai menulis berbagai buku tafsiran terbaru tanpa bukti outentik untuk menghancurkan klem tersebut.
Mereka mengklaim Barus lebih awal dari Aceh dengan hanya menunjukkan nisan-nisan tua polos tanpa catatan. Hanya dengan bukti tak otentik tersebut, di Kelurahan Pasar Barus Gerigis, Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara telah dibuat Monumen “Barus Titik Nol Masuk Islam ke Nusantara”. Parahnya lagi, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) pun dengan terlalu tergesa-gesa meresmikan Tugu Titik Nol Pusat Peradaban Islam Nusantara itu pada Jumat, 24 Maret 2017 kemarin.
Monumen Barus tersebut tentu tak rasional. Fakta membuktikan, Peureulak telah dibuat monument pada tahun 1984 dan belum diselesaikan sampai sekarang, malah telah dibangung monument baru dengan menghancurkan bukti-bukti yang ada. Aceh sebagai daerah pertama masuk Islam, secara historis juga sangat dirugikan.
Hal ini membuat geram banyak Sejarawan Aceh dan Dunia. Penulis Novel Sejarah, Putra Gara, mengecam peresmian itu. Dengan lantangnya ia mengatakan Jokowi tidak mengerti sejarah. Ia siap menjadi pemateri sejarah kepada Jokowi dan siapa saja yang membuat klem baru tersebut untuk membeberkan kebenaran.
“Jokowi Tidak Mengerti Sejarah. Barus Bukan Tempat Peradaban Islam Tertua. Barus sebelum masehi hanya pelabuhan besar, di mana tempat mengangkut rempah-rempah, kapur barus, kayu dll ke beberapa belahan dunia, salah satunya ke Timur Tengah,” Ujar Putra Gara.
“Kesultanan Barus baru ada abad 14 Masehi. Sementara Islam masuk ke Jeumpa (Aceh) abad ke 7. Cicitnya Rosulullah, anaknya Husein, pasca perang di Karbala, merapat di Jeumpa, dan menikah dengan seorang putri raja Jeumpa, yang anaknya kelak mendirikan kerajaan Peureulak,” Semprotnya.
Selain itu, Sastrawan Aceh yang lain yang juga murid kesayangan Ali Hasjmy,  H. Ameer Hamzah mengatakan, ada kemungkinan sejarah sengaja dikotak-katik untuk tujuan melemahkan peran Aceh.
“Mungkin sebab ketidaksukaan mereka kepada Aceh yang kerap memborontak (DI/TII, GAM) karena meminta otonomi pengegakan Syariat Islam. Nampak jelas bahwa orang-orang Islam sekuler dan non-muslim sedang berupaya menghapuskan Aceh sebagai daerah yang berjasa terhadap perkembangan Islam Nusantara,” Ujarnya.
Sementara itu, pemerhati sejarah Aceh, Mustafa, mengatakan Presiden Jokowi sudah tidak membaca dan tidak mengerti sejarah.
“Kalau hanya hasil historinya mengacu pada makam, sangat mustahil sebuah daerah bisa ditetapkan, dan sejarawan mana yang berani mengeklaim bahwa Barus adalah pertama masuknya Islam ke Indonesia, apa tidak dibaca sejarah atau tidak tau sejarah,” paparnya.
“Islam pertama di Indonesia adalah Samudra Pasai Peureulak, Aceh Timur. Pada saat itu, pedagang Barus sering ke Selat Malaka untuk menjual batu kapur, mereka belum Islam, namun Peureulak sudah menjadi kerajaan Islam, kan aneh jika kota Barus ditetapkan sebagai masuknya Islam di Indonesia,” semprotnya.
Masyarakat pencinta Sejarah Aceh ini menduga kuat peresmian Kota Barus sebagai kilometer nol Islam Nusantara tidak terlepas dari kepentingan pribadi Presiden Jokowi.
“Ada kepentingan apa tiba-tiba Jokowi langsung menetapkan, apakah sebelumnya sudah uji publik dan menggelar seminar seperti ditetapkan Samudra Pasai sebagai daerah pertama masuknya Islam ke Indonesia bahkan Asia Tenggara,” simpulnya.
Dari penelusuran kami, ada berbagai referensi buku yang memperkuat Aceh sebagai daerah pertama masuk Islam sangat antara lain; Kitab Idharul Haq, (Ishaq Makarani), Islam Fil Biladil Indonesia, (Ahmad al- Usairy)  Silsilah Tarikh Islamy (Mahmud Syajir), Rihlah Ibnu Batutah (Ibnu Batutah), Almuslimun Fil  al-Alam (Abdurrahman Zaki, Al-Islam fi Indonesia (Muhammad Dhiya’ da Abdullah Nuh), Sejarah Ummat Islam (Hamka) dan Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Nusantara oleh Prof Ali. Hasjmy.
Tak hanya itu, banyak pula sejarawan baik dari dalam atau luar negeri seperti China, Malaysia, Belanda, Pattani-Thailand, Arab Saudi, Tunisia dan Mesir yang mengakui bahwa Aceh adalah daerah pertama penyebaran Islam di Nusantara.

Adapun sejarawah tersebut yaitu Ibnu Batutah (Tunisia), Laksamana Cheng Ho (China), Prof. Dr. Hamka, Prof. Dr. Ibrahim Alfian (UGM) Prof. Ali Hasjmy (UIN Ar-Raniry),  Prof. Dr. Naguib Al-Atas (Malaysia), Prof. Dr. AJ Pijkar (Belanda), Prof Dr. Muarif  Ambari (UI), Prof, Dr. Abubakar Atjeh (UIN Jakarta), Prof Datok Burhan (Malaysia), Prof. Dr. C. Snoeck Hurgronye (Belanda),  Ismail Benjasmish (Pattani-Thailand), Dr. Ahmad Al Usairy (Arab Saudi), Prof Dr. Ahmad Syalabi (Mesir). Dan masih banyak lagi yang tak dapat disebutkan dalam ruang terbatas ini.

MKRdezign

{facebook#https://facebook.com/} {twitter#https://twitter.com/SeuramoeJeumpa} {google-plus#https://plus.google.com/u/0/104845329941163045524}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget